Di pagi hari yang dingin aku terbangun dengan mata yang berat ku melihat kelap kelip lampu pada ponselku. Ada Beberapa pesan di sosial media, dan kulihat pesan darinya. Pesan selamat ulang tahun dan doa. Aku terdiam, mencoba untuk terbangun dengan sempurna namun masih tak kuasa. Mencoba untuk memahami isi pesan namun ku terlelap lagi. Hah tukang tidur.
Ku coba tuk membalas pesan darinya. Dan dia pun merespon pesan ku, “kirain ucapan aku ga akan direspon”. 

—-
Pukul dua siang, aku bertemu dengan nya di sebuah cafe pertama kali kita jalan bersama. Le marly. Yang aku lihat adalah wajah lelahnya. Wajah thesis dan codingan. Bersyukurlah hari ini kami bisa bertemu. Tak banyak bicara dan hanya bertemu sebentar. Lalu kami berpisah.

Sore hari aku ke taman, taman balai kota. Dibawah pohon rindang di dekat labirin, aku duduk dan menikmati angin sepoy sepoy mengibas rambutku hingga lepek. Melihat orang orang berfoto, bermain, melamun, menunggu, cingogo di sekitar taman. Seru namun tetap berhati-hati. Lama aku duduk di taman. Pantat pegal, angin semakin menembus tulang. Akhirnya kuputuskan untuk kembali pada kewajibanku. Kuliah.


Cafe lt 7 di kampusku, sembari makan batagor andalan, sharing cerita bersama temanku. Sedikit bisa melepaskan angin dalam tubuhku. Aahhh…


Statistika di malam hari. Apa yang ku lihat apa yang kudengar kadang tak berkesinambungan. Mungkin aku lelah dan mengantuk. Tolong, rasanya aku ingin pulang saja.


Pukul sembilan malam hari. Kembali bertemu dengan dia. Dia yang aku rindukan dan harapkan. Ntah kenapa rasanya aku ingin menangis. Bukan menangis karena tidak bahagia atau sakit. Tapi menangis karena akhirnya bisa bertemu lagi di tengah tengah kesibukan dia. Ah cengeng. Terimakasih atas waktumu sayang.

Advertisements